Petang itu, sepulang bekerja, kami (Mae, Fanny dan Aruna) berjanji bertemu dengan Kak Yenni dan kak Ipur dari majalah Tarbawi untuk interview. kami senang sekali mendapat kesempatan berharga lagi untuk berbagi ide dengan lebih banyak orang lagi
Kami sangat senang mendapat kesempatan berbagi ide dengan para pembaca majalah Tarbawi. Kebetulan waktu itu berdekatan dengan momen Hari Anak Nasional, dan majalah Tarbawi mengangkat tema tentang anak-anak , khusunya potret anak-anak Indonesia yang memiliki tanggung jawab melebihi usianya. Maksudnya adalah anak-anak usia belia yang harus menanggung beban hidup lebih berat dari usianya, seperti mencari nafkah, merawat keluarga yang sakit seorang diri, serta potret-potret anak indonesia lainnya yang terpaksa harus kehilangan kebahagiaan masa anak-anak nya untuk memikul beban yang lebih besar dari usia mereka. Sedih memang mendengarnya, tapi itulah sekelumit potret anak indonesia yang masih sering kita jumpai.
Topik tentang anak-anak yang memikul beban melebihi usia nya memang masing sering kita jumpai di negara ini, padahal anak-anak memiliki masa kecil yang tak pernah bisa diulang lagi dan seharusnya diisi dengan kebahagian dan cinta kasih agar mereka bisa tumbuh dengan baik. Redaksi majalah Tarbawi tertarik dengan Komunitas Sekotak Susu untuk Anak Jalanan ini karena ide dari komunitas ini yang sederhana tapi mempunyai efek yang menyenangkan bagi anak-anak jalanan yang menerima sekotak susu dengan pesan cinta daripada uang.
Anak-anak jalanan, mereka harus menggadaikan masa anak-anaknya di jalanan menghirup asap kendaraan bermotor yang beracun dan memiliki tingkat bahaya akan kekerasan dan penculikan anak yang tinggi untuk mendapatkan uang. Padahal mungkin anak-anak seusia itu belum terlalu mengerti tentang uang.
Semoga bersam-sama kita bisa mengembalikan kebahagiaan masa anak-anak yang terpaksa tergadaikan oleh beban yang melebihi usia anak-anak yang mereka tanggung







just wow!